Kamis, 03 Desember 2009

SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ANAK USIA DINI: “PAUD Berbasis Komunitas Berwawasan Gender”


Ketua Panitia seminar sedang menyampaikan laporan.


Bapak Ferdy Samuel Rondonuwu, S.Pd., M.Sc.,Ph.D., Pembantu Rektor V UKSW sedang memberikan sambutan sekaligus membuka acara.


Bapak Drs. Sukadi, Kabid PNF Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kota Salatiga, sedang memberi sambutan.


Bapak Joko Hartanto dari Dinas Pendidikan Provinsi Jateng sedang menyampaikan materi tentang kebijakan PAUD.


Ibu Ir. Nila Kusumaningtyas, ketua HIMPAUDI Jateng sedang menyampaikan materi tentang BCCT.


Ibu Silviana dari HIMPAUDI Jateng sedang menyampaikan materi pelatihan Alat Permainan Edukasi.


Ibu Arianti Ina R. Hunga, dari Pusat Penelitian dan Studi Gender - UKSW sedang menyampaikan materi tentang PAUD berwawasan gender.




Peserta sedang menyampaikan tanggapan.


Pameran Alat Permainan Edukasi (APE) oleh panitia seminar.



Pelatihan membuat Alat Permainan Edukasi (APE) dari bahan bekas.


Pelatihan membuat Alat Permainan Edukasi (APE) dari bahan bekas.


Pelatihan membuat Alat Permainan Edukasi (APE) dari bahan bekas.


Pelatihan membuat Alat Permainan Edukasi (APE) dari bahan bekas.


Pelatihan membuat Alat Permainan Edukasi (APE) dari bahan bekas.


Pelatihan membuat Alat Permainan Edukasi (APE) dari bahan bekas.


Pelatihan membuat Alat Permainan Edukasi (APE) dari bahan bekas.

Latar Belakang

Kekerasan terhadap anak (khususnya anak usia dini) yang terjadi dan semakin meningkat akhir-akhir ini menimbulkan keprihatinan berbagai pihak yang peduli terhadap pendidikan anak usia dini. Kekerasan bisa terjadi antara orang dewasa terhadap anak, antara anak dengan anak diberbagai tempat baik secara fisik maupun non fisik. Salah satu upaya untuk menekan tindak kekerasan ini adalah melalui pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan anak, termasuk dari aspek gender.

Data tahun 2001 (Diknas, 2003) terdapat 26.172.763 anak usia 0-6 tahun. Sebanyak 52% dari angka itu atau 13,5 juta berusia 0-3 tahun, dan sisanya 48% atau 12,6 juta berusia 3-6 tahun. Dari jumlah ini hanya 7.347.240 juta (28%) yang terlayani program pendidikan anak usia dini (PAUD). Artinya masih 18.825.523 (72%) yang belum terlayani/memperoleh PAUD. Program PAUD yang ada dalam masyarakat diselenggarakan dalam bentuk formal, non formal dan informal. Kontribusi pendidikan non formal masih sangat kecil dalam PAUD, hal ini tercatat hanya 0,06% PAUD dalam bentuk non formal seperti Kelompok Bermain (KB), RA (Rabbiatul), Penitipan Anak.

Rendahnya akses anak usia dini memperoleh pendidikan bisa terkait dengan, antara lain:
1) kurangnya kesadaran dan partisipasi masyarakat (orang tua) terhadap pentingnya pendidikan anak usia dini,
2) terbatasnya lembaga penyelengara PAUD;
3) masih terbatasnya kualitas penyelengaraan PAUD; &
4) budaya masyarakat yang masih membedakan anak berdasarkan gender.

Sudah banyak kajian yang mengungkapkan pentingnya anak usia dini, salah satunya di bidang neuroscientis (Abdullah, 2003) menunjukkan; pertama, sekitar 50% kapabilitas kecerdasan orang dewasa telah terjadi ketika anak berumur 4 tahun, dan 80% telah terjadi ketika anak berumur 8 tahun dan mencapai titik kulminasi ketika anak berumur sekitar 18 tahun. Kedua, informasi awal yang diterima anak sejak usia dini cenderung bertahan dan mempengaruhi sikap dan perilaku anak sepajang hayat. Kedua temuan ini menunjukkan pentingnya pemberian stimulasi psiko-sosial/pendidikan terhadap anak usia dini sesuai kebutuhannya (termasuk gender) di samping pemenuhan aspek gizi dan kesehatan.

Untuk meningkatkan kualitas PAUD dibutuhkan metode pembelajaran yang tepat dan sesuai degan kebutuhan anak usia dini. Salah satu metode yang dianggap tepat adalah metode BCCT. Metode ini sudah disosialisasikan dan didukung penerapannya oleh Depdiknas melalui Dirjen PAUD. Keberhasilan penerapan metode BCCT perlu didukung media belajar (APE) yang memadai.

Dalam kenyataannya, ada sekitar 60% dari 55.000 lembaga PAUD non formal di Indonesia belum memahami metode pembelajaran yang seharusnya diterapkan dan sisanya belum matang dalam pemahaman metode (Direktur PAUD Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah, 2003).

Berdasarkan hal tersebut di atas maka dipandang perlu adanya seminar dan pelatihan bagi praktisi PAUD, orang tua, maupun masyarakat umum tentang pentingnya PAUD berbasis komunitas berwawasan gender. Selanjutnya penerapan metode BCCT, dan pembuatan media belajar (APE) yang murah dan ramah lingkungan sesuai dengan kebutuhan PAUD berbasis komunitas berwawasan gender.

Tujuan Seminar

* Membangun pemahaman tentang pentingnya PAUD berbasis komunitas yang berwawasan gender.
* Membangun komitmen masyarakat untuk mendukung PAUD berbasis komunitas yang berwawasan gender.
* Meningkatkan life skill tentang PAUD berbasis komunitas berwawasan gender melalui teknik BCCT.

Sasaran Program

* Pengajar PAUD
* Pemerhati PAUD
* Orang tua murid PAUD
* Mahasiswa yang tertarik pada PAUD atau yang menjadi calon pengajar PAUD

Output Lokakarya

* Terbangunnya pemahaman orang tua, masyarakat tentang pentingnya PAUD berbasis komunitas yang berwawasan gender.
* Terbangunnya komitment masyarakat untuk mendukung PAUD berbasis komunitas yang berwawasab gender.
* Peningkatan keterampilan menerapkan metoda BCCT dan media pembelajaran pendukung terealisasinya PAUD berbasis komunitas yang berwawasan gender.
* Peningkatan keterampilan membuat media belajar dari bahan daur ulang, ramah lingkungan, dan murah.

Bentuk Kegiatan: Seminar dan Pelatihan

Materi:

* Kebijakan PAUD nasional, regional, & lokal yang menjadi acuan realisasi PAUD berbasis komunitas dan berwawasan gender.
* Penerapan metode BCCT dalam PAUD berbasis komunitas dan berwawasan gender.
* Pembuatan media belajar (APE) dari bahan daur ulang, ramah lingkungan, dan murah untuk mendukung metode BCCT dalam PAUD berbasis komunitas dan berwawasan gender.
Pembicara Seminar
* Kebijakan PAUD — Direktorat PAUD Kementerian Pendidikan Nasional/Kadiknas Provinsi Jawa Tengah.
* PAUD Berbasis Komunitas Berwawasan Gender—HIMPAUDI Provinsi Jawa Tengah.
* BCCT & Media APE Pendukungnya — Praktisi PAUD dari HIMPAUDI Provinsi Jawa Tengah.
Pendidikan Anak dan Gender — Akademisi dari Pusat Penelitian & Studi Gender Universitas Kristen Satya Wacana.

Fasilitator Pelatihan

* Penerapan BCCT dalam PAUD berbasis komunitas berwawasan Gender — Praktisi PAUD dari HIMPAUDI Provinsi Jawa Tengah.
* Media APE pendukung Metode BCCT dalam PAUD berbasis komunitas berwawasan gender — * Praktisi PAUDdari HIMPAUDI Provinsi Jawa Tengah.

Waktu & Tempat

Tanggal : 5 Desember 2009
Jam : 08.00— 16.00 WIB
Tempat : Ruang E119, Gedung E Universitas Kristen Satya Wacana
Jl. Diponegoro No. 52-60 Salatiga

Kontribusi Peserta: Rp. 50.000 per orang.

Fasilitas : Seminar kit, materi, snack, makan siang, sertifikat .

Jumlah Peserta : Jumlah peserta pelatihan dibatasi sebanyak 75 orang.

Pendaftaran

* PAUD Satya Parahita Jl. Tidore Tegalrejo, Salatiga. Setiap hari Senin, Rabu, Jumat jam 08.00-10.00. HP 081355366160 (Ida).
* Parahita Foundation. Jl. Sumatera 144-Magersari, Tegalrejo, Salatiga. Senin—Jumat Jam 14.00—16.00. Tlp (0298) 315404.
* Pusat Penelitian & Studi Gender—Universitas Kristen Satya Wacana Jl. Diponegoro No. 52-60 Salatiga. Senin-Jumat jam 08.00-16.00. Telp. 0298-7101020, HP 081326676835 (Asih), 08156555321(Ina).

Senin, 28 September 2009

Kajian Perempuan dalam Aktifitas Ekonomi Berbasis "Putting-Out System" (POS)

Krisis ekonomi yang berkepanjangan memberikan implikasi yang kompleks bagi keluarga khususnya perempuan. Dalam kondisi seperti ini, sektor informal menjadi “peluang” bagi perempuan untuk bisa memperoleh pendapatan. Industri Mikro-kecil-Menengah berbasis pada “Putting-Out” System (IMKM berbasis POS) menjadi salah satu peluang kerja bagi banyak perempuan sejak lama.

Namun demikian keberadaan mereka masih “tersembunyi”. Mereka belum diakui sehingga belum dicatat sebagai pekerja sebagaimana pekerja lainnya, belum banyak diungkap keberadannya, serta belum tersentuh program permberdayaan dan perlindungan sebagai pekerja. Untuk menyingkap “ketersembunyian” ini maka Pusat Penelitian dan Studi Gender – LPPM Universitas Kristen Satya Wacana bekerjasama dengan Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan melakukan kajian dengan judul “Perempuan dalam Aktifitas Ekonomi Berbasis “Putting-Out” System (POS) yang difokuskan pada Kasus Pekerja Rumahan dalam Industri Mikro-Kecil-Menengah di Jawa Tengah. Terlaksananya penelitian ini juga atas dukungan beberapa Pusat Studi Wanita/Gender, yaitu: PSG Universitas Pekalongan, PSW Universitas Muria Kudus, dan PSG STAIN Pekalongan.

Mengacu pada situasi problematik ini, maka tujuan dari penelitian ini, antara lain:
a) memperoleh gambaran posisi dan peran industri mikro-kecil-menengah berbasis “putting-put” system dan home-based workers dalam aktifitas ekonomi masyarakat;
b) memperoleh gambaran kondisi Pekerja Rumahan (PeR) dan interaksi di dalamnya yang menjelaskan hubungan antara PeR, PeR dan anggota keluarganya, dan PeR dan pengusaha dalam IMKM berbasis POS; dan
c) memperoleh gambaran faktor-faktor penghambat yang dialami home-based workers dalam mendapatkan akses dan kontrol dalam program pemberdayaan dan perlindungan untuk mendukung eksistensinya.

Melalui kajian ini diharapkan dapat memberikan manfaat konkrit (praktis) bagi industri/pengrajin dan Pekerja Rumahan, lembaga pendamping industri dan home-woekrs, serta pemerintah yang relevan dengan subyek penelitian ini. Selain itu, diharapkan dapat menambah khasanah ilmu pengetahuan dengan adanya berbagai temuan, metode, model dan teori yang terus dicari dan dikembangkan untuk mendukung perkembangan industri, khususnya industri berbasis “putting-out” system.

Hasil penelitian (awal) menunjukkan bahwa IMKM berbasis POS dan Pekerja Rumahan berperan strategis dalam perekonomian. IMKM berbasis POS mampu eksis karena berbasis pada Pekerja Rumahan atau memindahkan sebagian proses produksi pada Pekerja Rumahan. Namun demikian peran mereka (Pekerja Rumahan) mendukung IMKM berbasis POS justru dalam posisi dimarginalkan (dimiskinkan). Proses pemiskinan Pekerja Rumahan (khususnya perempuan) berakar pada “ideologi” gender.

Hasil kajian ini menunjukkan bahwa dibutuhkan kajian lebih jauh untuk bisa mendorong pengakuan terhadap Pekerja Rumahan serta perlindungan bagi mereka yang faktanya belum terakomodasi dalam UU Ketenagakerjaan.

Sasaran:
Pekerja rumahan perempuan di IMKM berbasis POS

Lokasi kegiatan:
IMKM berbasis POS di Kudus, Salatiga, Sragen, Klaten, Batang, dan Pekalongan

Waktu: 2008

Tim peneliti:
Arianti Ina R. Hunga
Purwanti Asih Anna Levi
Tundjung Mahatma

Kerjasama dengan: Pusat Studi Gender Universitas Pekalongan, Pusat Studi Gender Universitas Muria Kudus, Pusat Studi Gender STAIN Pekalongan

Kamis, 20 Agustus 2009

Hibah Bersaing - Dikti Tahun II: Teknologi Daur Ulang Air Limbah Batik


Pakaian batik siap pakai.


Proses desain batik.


Proses pembatikan.


Bahan pewarna batik.


Proses pewarnaan.


Air limbah batik sisa proses pewarnaan yang mengandung sisa lilin dan bahan pewarna.


Air limbah batik dibuang langsung ke selokan tanpa diolah terlebih dulu.


Air limbah batik mencemari persawahan.


Pilot project IPAL di sebuah industri mikro-kecil batik di Sragen.


Sistem aerob-unaerob.


Sistem aerob-anaerob.

Lokasi: Klaster batik Sragen

Waktu: 2009

Tim Riset Aksi:
Dr. Augustinus Ign. Kristijanto, M.S. (Aspek Kimia)
Widhi Handayani, M.Si. (Aspek Biologi)
Purwanti Asih Anna Levi, S.S. (Aspek Sosial)
Angen Basuki, S.Si. (Aspek Fisika)

Jumat, 14 Agustus 2009

Best Practice Pendidikan Pemilih & Kepemiluan di 8 Kabupaten/Kota






Ibu Sumi seorang anggota PKK, antusias mempertanyakan tentang penting perempuan dalam pemilu & bagaimana bisa menggiring suara perempuan.


Ibu Tumini menjadi salah satu yang meminta ikut simulasi pemilu. Ia sedang berusaha melakukan haknya memberikan suara. Ia menghabiskan kira-kira 7 menit didalam bilik suara.


Ibu solekah (berkaos hitam) seorang buruh batik. Usianya sekitar 40 tahun, mempunyai anak 10 orang, yang paling besar 22 tahun (sudah menikah) & paling kecil kelas 1 SD (7 tahun). Ia menjadi salah satu peserta yang meminta (menunjukan jari) untuk ikut simulasi. Ia ingin mempunyai pengalaman mencoba sebelum benar-benar memberikan suara pada tanggal 9 April 2009.


Ibu Marni adalah salah satu peserta yang sedang memberikan refleksi pribadinya atas proses pelatihan yang diterimanya. Ia salah satu peserta yang lugas memberikan pengalaman dan pendapatnya dalam pelatihannya.


Seorang Ibu (lansia) dan seorang perempuan muda sedang mencoba (simulasi) memberikan suara di bilik suara yang dibuat dari dos bekas air mineral. Ibu lansia membutuhkan waktu 6 menit dan Perempuan muda ini memburuhkan waktu 4 menit.


Dewi, adalah salah satu peserta yang diberi kesempatan oleh fasilitator memimpin diskusi dalam kelompok. Ia seorang kader PKK di salah satu desa di pinggiran kota. Dia bersama 2 orang temannya yang juga jadi peserta. Kedua temannya adalah buruh pabrik. Mereka sedang mendiskusikan persoalan dan kebutuhan perempuan di Kabupaten Kudus yang akan dijadikan agenda pembahasan dengan legistatif terpilih.


Ibu Siti (mengenakan baju hitam) adalah seorang pengamen di “jalanan”. Ia aktif bertanya dan tidak malu membagikan pengalaman hidupnya yang keras. Ia juga mau menyumbang lagu-lagu untuk mengisi sessi istirahat di tengah-tengah peserta yang kelihatan jenuh


Ibu Surti seorang pemulung. Ia menjadi salah satu peserta dalam pelatihan ini. Ia membawa 3 orang anaknya. Salah satu dalam gendongannya, satu orang sedang memegang bajunya, dan lainnya nampak duduk di bagian belakang. Ibu ini berdiri dibelakang karena anaknya rewel. Ia ingin mengikuti acara ini agar tahu bagaimana cara memberikan suaranya.

Tim Riset Aksi (Koalisi 4 lembaga):
* Arianti Ina R. Hunga (PPSG-UKSW - Penanggungjawab Program)
* Purwanti Asih Anna Levi (Parahita Foundation)
* Mila Karmilah (Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Cabang Jawa Tengah)
* Siti Malaiha Dewi (L@PPIS Kudus)
* Siti Munasifah (Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Cabang Jawa Tengah)
* Purwanti Kusumaningtyas (PPSG-UKSW)
* Mustika Kuri Prasela (PPSG-UKSW)
* Dhyah Ayu Retno W. (PPSG-UKSW)
* Yuliani (PPSG-UKSW)
* Wahyu K. Herlambang (PPSG-UKSW)
* Tundjung Mahatma (PPSG-UKSW)
* Florida I. Tawesi (PPSG-UKSW)
* Surono (PPSG-UKSW)
* Suharni (Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Cabang Boyolali
* Iin Arinta F. (Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Cabang Magelang
* Volunteers dari 4 lembaga koalisi & personal

Rabu, 12 Agustus 2009

Best Practice Pelatihan Kontrak Politik & Kontrol Politik Tanggal 26 Juli 2009 di Salatiga




Salah satu legislatif perempuan sedang menyampaikan komitmennya dalam pelatihan.


Peserta pelatihan yang berasal dari 8 kabupaten/kota sedang berdiskusi.


Salah satu peserta mengajak anaknya yang masih kecil ke pelatihan.


Salah satu peserta sedang membujuk anaknya yang rewel.


Peserta pelatihan sedang berdiskusi kelompok untuk menentukan point-point kesepakatan dengan legislatif perempuan.


Salah satu legislatif perempuan sedang menandatangani kontrak politik.

Kesempatan bertemu antara konstituen dan legislatif ternyata sangat dibutuhkan dan menjadi “ajang” untuk saling mengenal satu dan lainnya. Kelima orang legislatif perempuan yang hadir dalam pelatihan ini mencuri perhatian peserta, karena perjalanan karirnya menunjukkan komitmen mereka untuk memperjuangkan suara perempuan. Empat orang dari legislatif perempuan yang hadir adalah aktifis perempuan yang program-programnya menyentuh kebutuhan perempuan marginal jauh sebelum mereka menjadi caleg dan terpilih menjadi legislatif perempuan. Ada salah seorang legislatif perempuan yang mendampingi “anak jalanan” menguraikan pengalamannya yang tragis dan sekaligus membanggakan peserta. Ia menolong “anak jalanan”, menampung mereka di rumahnya, dan membantu menyediakan makanan dan minuman. Pada suatu ketika, anak-anak jalanan tersebut mengkuras isi rumahnya habis-habisan, termasuk semua pakaiannya sebanyak 2 almari besar. Mereka mengkuras seluruh isi rumah dan menelepon si Ibu akan semua yang telah mereka lakukan. Si Ibu mengikhlaskannya karena mereka masih berkata jujur dan melakukannya untuk kelangsungan hidup mereka di “jalanan” bersama komunitasnya. Cerita perdampingan terhadap “pekerja seks komersial”, program pemeliharaan kehamilan gratis bagi ibu-ibu miskin, perjuangan alokasi dana pemerintah bagi program perempuan miskin, sampai dengan perjuangan mempengaruhi kebijakan pemerintah kabupaten untuk memperbanyak camat perempuan menjadi “sharing” yang sangat menarik dalam diskusi ini. Juga perjuangan legislatif perempuan ini hingga terpilih, tidak lepas dari perjuangan seorang perempuan dalam menghadapi masyarakat yang patriarkhi. Masyarakat masih memandang remeh perempuan. Terungkap dari 2 legislatif perempuan, bagaimana mereka keluar dari pekerjaannya sebagai PNS yang cukup punya jabatan untuk menjadi legislatif perempuan. Mereka pernah gagal dalam pemilu 2004 lalu dan masyarakat mengatakan “Anda melakukan keputusan yang salah. Politik bukan tempat Anda sebagai perempuan”. Pemaparan para legislatif merupakan pengalaman konkrit perempuan untuk belajar, bergumul, dan berjuang sebagai seorang perempuan dalam kancah politik. Dari “sharing” ini, ada seorang peserta (penjahit) yang selama ini hanya berkutat dengan jahitannya di rumah, mengatakan dari diskusi ini Ia menjadi paham politik dan terungkap, “sekarang saya menjadi tahu bahwa politik itu bukan sesuatu yang jauh dari kehidupan perempuan, juga keterwakilan perempuan ternyata sangat penting karena ada kebutuhan perempuan hanya diketahui/dirasakan oleh perempuan”.

Dalam diskusi kelompok, saya salut dengan semangat ibu-ibu untuk belajar dan berbagi pengalaman. Salah satu ibu mengungkapkan dalan kesempatan pertama diskusi, permasalahan yang harus menjadi perhatian adalah gizi buruk balita dan angka kematian ibu melahirkan yang msih tinggi. Dia seorang kader posyandu, dulu posyandunya mendapat dana subsidi dari pemerintah. Ketika subsidi terhenti, dia menggalang dana dari masyarakat desanya. Pengalaman ibu yang lain mengatakan inti permasalahan perempuan adalah keterbatasan ekonomi, tidak tersedianya lapangan pekerjaan yang cukup untuk perempuan. Seandainya pemerintah Kota Salatiga cukup menyediakan lapangan pekerjaan, maka tidak perlu susah-susah ke luar negeri menjadi TKW. Perempuan juga akan mempunyai penghasilan dan bisa membantu perekonomian keluarga, anak-anak akan lebih sejahtera. Mereka sangat kritis dalam menyikapi dunia pendidikan, mereka bilang pendidikan gratis hanya slogan. Yang terpenting dalam diskusi kali adalah adanya kesadaran bahwa poligami merupakan salah satu bentuk kekerasan terhadap perempuan, kekerasan psikis. Salah satu ibu bercerita bahwa dia menolak ketika akan dijadikan istri kedua, dan ini didukung oleh ibu-ibu yang lain, karena kita sebagai perempuan seharusnya saling membantu bukan saling menyakiti. Saya melihat dalam forum ini nilai-nilai sisterhood yang tersirat, dan ini akan menjadi modal perjuangan perempuan untuk meraih hak-hak mereka yang masih terabaikan.

Hal menarik lainnya, ternyata pemaparan yang menarik dari legislatif tidak semuanya bisa direalisasikan karena “keberanian” legislatif perempuan masih menghadapi tantangan. Hal ini terungkap dari ada 1 orang dari legislatif perempuan yang belum mau memberikan komitmen konkrit berupa menandatangani kontrak politik secara bersama-sama. Dari 5 legislatif perempuan, ada 1 orang (sebut saja namanya Ibu Shinta – nama alias) yang menolaknya secara halus. Argumentasi dari legislatif ini adalah tidak perlu membuat kontrak politik secara formal karena tidak ada gunanya bila tidak dilaksanakan. Alasan lainnya ia tidak ikut membubuhkan tanda tangan karena ia belum yakin bisa tetap menjadi legislatif dengan adanya keputusan Mahkamah Konstitusi terkait perhitungan suara. Ketua Tim CSO sempat menghampiri Ibu Shinta yang hendak berpamitan, pada saat itu ia konsultasi dengan suaminya yang kebetulan mendampingi untuk meminta kepastian apakah Ia perlu berpartisipasi membuat kontrak dan kontrol politik. Suami beliau memberikan pendapat untuk tidak terlibat dengan alasan belum dilantik menjadi anggota legislatif. Nampak, pendapat suami cukup memperngaruhi keputusan Ibu Shinta. Dari gambaran ini merupakan gambaran konkrit bahwa tidak semua legislatif perempuan mandiri menentukan suaranya (keputusannya) atau masih menjadi “bayang-bayang” dari laki-laki (suami, saudara, pengurus partai, dll). Namun sikap Ibu Shinta tidak menyurutkan semangat keempat legislatif perempuan lainnya, peserta, dan CSO. Sessi ini adalah sessi yang paling menarik dan penuh “kejutan”. Antusias peserta ditunjukkan dengan spontanitasnya maju ingin membubuhkan tanda tangan. Sempat terlontar dari bibir peserta maupun legislatif perempuan bahwa peristiwa ini adalah satu peristiwa yang “khusus” karena belum pernah terjadi sebelumnya. Semua legislatif maupun peserta merasakan ini adalah pengalaman pertama membangun komitmen politik. Seminggu setelah selesai acara ini, saya bertemu dengan beberapa peserta dalam satu kegiatan lainnya dari PPSG-UKSW. Di sela-sela acara ini, 4 orang yang sempat mengikuti pelatihan tersebut mengatakan (saya simpulkan), “wah kegiatan kemarin itu memang kegiatan yang istimewa karena kami baru pertama diundang mendiskusikan untuk ikut menyuarakan suara perempuan. Biasanya kami tidak diperhitungkan sebagai “orang kecil” dan perempuan lagi. Dulu kami pikir politik itu hanya menjadi anggota partai, kampanye, dan terlanjur punya pandangan negatif bahwa partai itu bisanya hanya mengumbar janji-janji. Ternyata kita bisa ikut berperan dalam mengontrol suara perempuan. Kami tertarik untuk ikut kelanjutan programnya biar nasib kita-kita ini diperhatikan”.

Tim Riset Aksi (Koalisi 4 lembaga):
* Arianti Ina R. Hunga (PPSG-UKSW - Penanggungjawab Program)
* Purwanti Asih Anna Levi (Parahita Foundation)
* Mila Karmilah (Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Cabang Jawa Tengah)
* Siti Malaiha Dewi (L@PPIS Kudus)
* Siti Munasifah (Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Cabang Jawa Tengah)
* Purwanti Kusumaningtyas (PPSG-UKSW)
* Mustika Kuri Prasela (PPSG-UKSW)
* Dhyah Ayu Retno W. (PPSG-UKSW)
* Yuliani (PPSG-UKSW)
* Wahyu K. Herlambang (PPSG-UKSW)
* Tundjung Mahatma (PPSG-UKSW)
* Florida I. Tawesi (PPSG-UKSW)
* Surono (PPSG-UKSW)
* Suharni (Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Cabang Boyolali
* Iin Arinta F. (Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Cabang Magelang
* Volunteers dari 4 lembaga koalisi & personal

Kamis, 06 Agustus 2009

Pendidikan Keadilan & Kesetaraan Gender dalam Keluarga untuk Mencegah KDRT





Ketidaksetaraan dan ketidakadilan gender masih menjadi persoalan dalam masyarakat Indonesia tidak terkecuali Kota Salatiga. Hal ini muncul dalam tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak dalam rumah tangga yang cenderung meningkat dalam 3 tahun terakhir ini di Jawa Tengah, khususnya di Kota Salatiga. Kekerasan dalam Rumah Tangga muncul dalam dimensi yang luas, tidak hanya berbentuk fisik tetapi juga psikologis maupun ekonomi. Dalam konteks ekonomi, kekerasan yang muncul berupa pemutusan akses dan kontrol terhadap sumber daya ekonomi rumah tangga, larangan untuk terlibat dalam kegiatan ekonomi produktif, tidak memberi nafkah, dsb.

Pemecahan persoalan ini menjadi sangat efektif bila dimulai dari pendidikan keluarga yang berbasis gender yang diwujudkan dalam aktifitas ekonomi bersama yang melibatkan suami (laki-laki), isteri (perempuan), dan anak. Dalam aktifitas konkrit ini, dimasukkan/diintegrasikan aspek pendidikan untuk mengubah kerangka berpikir, pandangan-pandangan, dan perilaku yang bias gender selama ini. Aktifitas ini sekaligus untuk menjawab persoalan kemiskinan yang masih membelenggu masyarakat sampai saat ini.

Dalam pelaksanaan program, ada dimensi lain yang perlu mendapat perhatian yaitu fenomena kekerasan dalam rumah tangga yang ditemui di dalam masyarakat. Korban kekerasan sering menerima hal ini sebagai suatu yang wajar dan berimplikasi pada pendidikan anak yang kurang baik. Mengacu pada temuan ini, maka program diarahkan pada pendidikan kesetaraan dan keadilan gender dalam keluarga.

Sasaran:
* Keluarga murid PAUD Satya Parahita
* Keluarga kelompok konveksi
* Keluarga kelompok kerajinan eceng gondok
* Keluarga kelompok masak
* Keluarga buruh migran

Lokasi kegiatan:
Salatiga dan sekitarnya

Waktu: 2009 - dst.

Tim Riset Aksi:
Ir. Arianti Ina R. Hunga, M.Si. (Ketua - Aspek Gender & Sosial Ekonomi)
Yafet Y.W. Rissy, S.H., M.Si., LLM. (Aspek Hukum)
Tri Nurul Handayani (Aspek Sosial)
Yuliani (Aspek Sosial)
Purwanti Asih Anna Levi, S.S. (Aspek Sosial Ekonomi)

Senin, 27 Juli 2009

Kelompok Belajar Orang Tua Peduli PAUD




Kualitas sumber daya manusia perempuan menentukan kemajuan suatu masyarakat dan generasi mendatang. Pentingnya aspek ini bukan hanya karena perempuan mempunyai fungsi kodrati untuk hamil, melahirkan, dan memelihara anak. Dalam konteks ini pendidikan perempuan akan menentukan kualitas anak yang menjadi generasi mendatang. Khususnya dalam konteks Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) – Kelompok Bermain Satya Parahita yang telah dirintis sejak tahun 2007, sangat dirasakan pentingnya peran orang tua dalam mendukung pendidikan anak.

Salah satu kebijakan pemerintah dalam aspek pendidikan untuk merespon persoalan ini adalah adanya Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang dinyatakan bahwa salah satu program Pendidikan Non Formal adalah Pendidikan Kecakapan Hidup (PKH atau life skill). Program ini diarahkan bagi masyakat yang tidak memunyai akses atau kesempatan dipendidikan formal dan berasal dari keluarga miskin. Dalam konteks ini, ketrampilan orang tua dalam membantu pendidikan anak usia dini yang menjadi siswa Kelompok Bermain - Satya Parahita menjadi sangat penting. Kemampuan orang tua akan menentukan kualitas pendidikan anak usia dini.

Menangkap persoalan tersebut, Universitas Kristen Sayta Wacana Salatiga melalui Pusat Penelitian dan Studi Gender, bekerja sama dengan Parahita Foundation sebagai elemen masyarakat, merasa perlu untuk ikut berpartisipasi membantu mengatasi persoalan tersebut. Pendidikan Keluarga Berwawasan Gender (PKBG) dalam bentuk forum orang tua dan sekolah (kepala sekolah dan guru) menjadi pilihan program yang akan diselenggarakan oleh Pusat Penelitian dan Studi Gender - Universitas Kristen Satya Wacana dan Parahita Foundation dengan bernaung di bawah program besar Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Satya Parahita.

Sasaran program adalah orang tua dari murid Kelompok Bermain - PAUD Satya Parahita. Tujuannya untuk meningkatkan pemahaman orang tua anak usia dini terhadap proses pembelajaran anak agar terjadi kesinambungan antara pendidikan yang diberikan di KB - PAUD Satya Parahita dengan pendidikan di rumah / keluarganya. Program dilaksanakan dalam bentuk workshop di PAUD Satya Parahita, di Pondok Sang Timur, Jl. Tidore, Tegalrejo, Salatiga.

Tim Riset Aksi:
Ir. Arianti Ina R. Hunga, M.Si. (Penanggungjawab Program)
Florida I. Tawesi (Guru PAUD Satya Parahita)
Purwanti Asih Anna Levi (Pengelola PKBM Satya Parahita)
Volunteers (mahasiswa UKSW & personal)